Kamis, 03 Mei 2012

RESENSI NOVEL PENGAKUAN PARIYEM

Kategori: Buku-buku Jenis Sastra & Fiksi
Penulis: Linus Suryadi Ag
Batiniah Perempuan Jawa Judul : Pengakuan Pariyem
Pengarang : Linus Suryadi Ag
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta Tahun : 1980
CABUL ! Demikian seru pejabat publik di kota Yogyakarta ketika prosa lirik ini terbit. Uang pajak rakyat digelontorkan kepada seorang pejabat tolol yang tak bisa membedakan seni berkata-kata dan stensil erotik. Tak punya jiwa dan empati. Si birokrat-militeristik ini telah memalukan jagad kesenian Yogakarta. Toh walau begitu, Linus mendapat ‘permintaan maaf’ dengan hadiah satra dari Pemprov Yogyakarta tahun 1984, 4 tahun berselang setelah Pengakuan Pariyem terbit. “Pariyem nama saya. Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa. Tapi kerja di kota pedalaman Yogyakarta”. demikian novel ini dibuka, lalu diulang-ulang dalam tiap pergantian kisah. Semacam lirik yang ditulis Linus, ya memang beberapa kalangan menamakannya prosa lirik-cerita berlirik. Tak melulu AABB / ABAB / AAAA seperti pantun kuno yang diajarkan di sekolah dasar dulu, tapi lebih bebas, tanpa meninggalkan spirit perpantunan, yaitu kata-kata ringkas dan cerdas. Seperti membaca suatu laporan jurnalisme sastrawi dalam tiap baris liriknya. Pengaruh dari Persada Studi Klub, asuhan Umbu Landu Paranggi tahun 1969 di Malioboro menorehkan kedekatan karya antara kedua seniman Malioboro tersebut. Awal pertama dimulai Linus dengan cerita asal-muasal Pariyem, dari Wonosari, sebuah desa di perbatasan timur Yogyakarta, deretan Pegunungan Seribu yang kering tandus. Disana Pariyem lahir, dibesarkan dan mencecap masa kanak-kanak yang ceria. Pariyem mengaku sebagai Katolik, sebuah identitas keagamaan yang lumrah bagi kalangan disana paska 66, untuk menghidari sangkaan sabagai orang komunis. Sebagai suatu keluarga besar yang dekat dengan seni ‘kerakyatan’ (ayahnya pemain ketoprak, ibunya sinden), tak pelak lagi merupakan target utama pembantaian, walau keluarga mereka tak tahu apa-apa tentang politik Jakarta. Era tahun 1980-an, yang marak dengan petrus (penembakan misterius) mengilhami Linus untuk membaca ulang pembantaian paska 66 dengan novel ini. Sejarah berdarah-darah yang sama telah berulang, dengan kemasan yang lebih rapi , sistematik dan gelap. Setelah melapor sini-situ,apel disana-sini, maka orang tua Pariyem kembali hidup jadi petani “tapi cuma menggarap bengkok pak Sosial” ujar Pariyem. Dari seniman ke buruh tani. “Dan agama, apakah agama ? Pertanyaan itu bergaung dalam sanubari saya Suka menggelitik dan merongrong jiwa pula Bikin kusut pikiran, kemelut perasaan Sembab mata dan boyak telinga Bila dialamatkan ke dalam Tapi bila dialamatkan keluar : Orang bertentangan tak ada habisnya …” Suasana kejawaan kental meliputi keseluruhan novel. Mulai dari awal lahirnya Pariyem sampai kehidupan di kota, sebagai babu. Geertz dengan studi Mojokuto-nya mebuat babakan baru tentang studi antropologi jawa, lalu Linus menyusulnya dengan prosa liriknya. Bedanya Geertz serius berteori, tetapi Linus hanya menuliskan nalar dan batin orang jawa bekerja, lewat prosa lirik. Pariyem lahir, diikuti oleh serangkaian upacara jawa : slametan (syukuran) dengan bermacam-macam sesajen, lalu perlakuan yang khas jawa lainnya. Linus menyinggung sekilas ‘kekatolikan’ di sini, hanya pada saat pembabtisan (pengesahan menjadi seorang beragama katolik). Menariknya, dia menamakan kaum seperti Pariyem itu ‘katolik kejawen”, gado-gado antara katolik dengan adat setempat. Hal yang lumrah di pedesaan tanah jawa. Selain itu, islam jawa pun banyak dianut oleh masyarakat jawa juga. Geertz-Linus sepaham tentang agama local. Maria Madgalena Pariyem lengakpnya, Maria Magdalena ? Ah itu kan lonte yang bertobat di Injil. Linus mengolok-olok kehidupan, bagaimana seorang lonte berkhotbah tentang kehidupan dan kesetiaan ? Pemahaman batiniah tentang jagad gede (dunia besar) dan jagad cilik (dunia kecil) bagi Pariyem membawa dia dari kehidupan Wonosari yang “bahagia walau tanpa kemewahan” ke lingkungan priyayai keraton, rumah keluarga besar Kanjeng Raden tumenggung Cokro Sentono. Disini, kemudian nalar dan batiniah jawa yang dituliskan Linus menemukan prakteknya yang lebih kongkrit : susah-gembira, kawula-gusti (rakyat-penguasa), mati-lahir, seperti suatu jagad yang saling muncul-berimbang. Dari titik itu (jagad kecil), rumah kanak-kanak di Wonosari, ada jagad gede (jagad besar) dimana Pariyem hidup (sebagai babu di Ndalem Suryomentaraman Yogyakarta). Pariyem menjadi bagian disana, sebagai seorang perempuan babu yang pasrah pada kekuasaan priyayi. Khas seorang perempuan jawa yang jarang tampil di depan public, tapi mereka berpengaruh pada kehidupan domestik. Raden Sentono yang merupakan pensiunan sibuknya bukan main, berkeliling sana-sini, menjumpai banyak tamu dari kalangan pemerintahan sampai rakyat kebanyakan, merupakan suami dari Raden Kanjeng Ayu yang “doyan jamu” (suka minum jamu). Seperti jagad cilik, disitu ada keluarga dan jagad gede, disitu ada masyarakat. Bagi Linus, dengan cara itulah sebuah keluarga jawa terbentuk. Potret jawa modern pun ditampilkan Linus, dengan menceritakan dua anak dari Raden Cokro Sentono, yaitu Raden bagus Ario Atmojo dan Ndoro Putri Wiwit Setiowati. Mereka kuliah, calon sarjana, menempel poster artis idola dikamar mereka, merokok sigaret dan melanglang buana naik motor ke pelosok kota Yogya, layaknya orang muda haus hal-hal baru. Khas generasi pertama keluarga jawa modern yang sedang menemukan adaptasi modernisasi yang dirasa pas, dan tentu tak lupa tradisi. Atmojo yang terampil berpantun jawa dan Setiowati yang luwes menari jawa. Betapa semua yang mereka miliki jadi anti-tesis modernisasi yang melanda kota Yogyakarta pada era 80-an. Modern, tapi kosong, tak berjiwa. Linus ingin memperlihatkan kemampuan adaptasi orang jawa dengan penerimaan mereka terhadap suatu yang baru yang dikondisikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Terutama soal seks. Ya, ini yang tabu dibicarakan, tetapi tak disangkal dan ditutupi keberadaannya. Kondisi perpolitikan gaya jawa, yang ‘rukun’, tapi sebenarnya penuh konflik. Wacana seks yang ‘terencana dan patuh’, seperti KB jaman Orba dijungkirbalikkan oleh Pariyem yang melukiskan percintannya pertama kali dengan Kang Kliwon yang berdebar, lalu berlanjut dengan Atmojo yang awalnya serba liar keburu nafsu, tetapi pada akhirnya posisinya sebagai perempuan jawa ‘menerima dengan pasrah’ keliaran nafsu Atmojo tersebut. Linus, beberapa kali menuliskan dengan jahil ‘anunya besar-penthil diisap-anunya dipegang’, lugu, lugas dan menggelitik. Pariyem akhirnya menjadi selir Atmojo, seperti Sentono yang juga punya banyak selir. Berbekal pengetahuan dan keteguhan hati, Setiowati malah teratur mengkonsumsi pil ‘APEM, anti perempuan hamil’. Wacana seks yang didominasi oleh priyayi laki-laki jawa, pada generasi keluarga modern jawa pertama juga ditulis ulang oleh para perempuan. Linus sekali lagi ingin berbicara seks dengan jujur dan purba, yaitu terjadi karena ‘tresna’, yang oleh katalog buku diterjemahkan sebagai ‘cinta batiniah’. Cinta Pariyem pada kang Kliwon, pada awalnya, kemudian pada Atmojo, pada akhirnya, lalu cinta Satiowati entanh dengan siapa. Kontradiksi seks antar keturunan pada keluarga jawa. Butuh waktu tiga tahun bagi Linus untuk memulis semuanya dengan lengkap dan terperinci. Tak lupa Linus berbicara tentang detail, seperti lokasi biskop, riuhnya Mauludan Sekaten, situasi ruman Ndalem Suryomentaraman, gerak-gerik tuannya ketika berbicara sampai persetubuhan percintaan Pariyem yang dilukiskan dengan indahnya. Sebuah karya yang melukiskan suasana jawa yang rukun, tapi dalam prakteknya penuh konflik. Jawa yang hidup dengan batin, tetapi dalam praksisnya berhadapan dengan dunia yang pragmatis. Saya rasa Pariyem adalah perempuan jawa gelisah, babu yang tak kuasa membuat perubahan, hanya pasrah sembari bertanya-tanya. “Ya, ya, sebagai orang barat Dan, ah, ya, sebagai orang timur Mestilah lebur dalam perkawinan Dibulatkan oleh perikemanusiaan Dengan bahu membahu bergerak-tegak- Mengarak panji-panji kehidupan”

0 komentar:

Poskan Komentar